.:[Close][Klik 2x]:.
SAYA MENGIRA TELAH MENDIDIK ANAK, TAPI NYATANYA TIDAK ! ORANG TUA WAJIB BACA ! |

SAYA MENGIRA TELAH MENDIDIK ANAK, TAPI NYATANYA TIDAK ! ORANG TUA WAJIB BACA !

Posted by: Tags:
Seorang sahabat saya mengeluh soal anaknya.

“Masak ia gagal masuk Universitas X (dia menyebut sebuah PTN ternama). Padahal bapak ibunya sama-sama lulusan situ,” keluhnya.

“Lho, memangnya seleksi masuk PTN sudah selesai?”

“Belum sih. Ini hasil simulasi di daerah ia ikut bimbingan.”

“Lho, kau memvonis anakmu berdasarkan hasil simulasi? Kupikir tadi sudah gagal benar. Artinya masih ada waktu untuk memperbaikinya, kan?”

“Iya, sih.”

“Nah, ketimbang memvonis ia gagal, tidakkah lebih baik memberi ia semangat, mengubah aktivitas belajarnya, selagi masih ada waktu?”

Ia terdiam.

“Ada satu hal lagi. Kenapa dirimu kau jadikan standar untuk anakmu? Apakah jika bapak ibunya lulusan PTN X, anaknya juga harus begitu?”

“Iya, dong.”

“Apakah anakmu sama dengan kamu? Potensinya, bakatnya, minatnya? Pernahkah mengukur potensi anak? Pernahkah mencari tahu apa minat dia?”

Dia terdiam.

“Boleh jadi ia punya potensi yang sangat berbeda dengan kamu. Menyuruh ia mengikuti jalan kau selain menyiksa ia juga boleh jadi telah membunuh potensi besar yang ia miliki. Ia punya bakat A, tapi kesannya menjadi B, demi memuaskan cita-cita orang tuanya.”

“Tapi saya tidak memaksakan jurusan yang harus ia masuki. Yang penting ia mampu masuk PTN.”

“Belum tentu juga anakmu butuh kuliah.”

“Lho, kok gitu?”

“Memang begitu. Tidak setiap orang harus kuliah. Ada banyak profesi yang tidak memerlukan kuliah. Juga ada banyak profesi yang tidak tersedia kuliahnya di PTN. Mematok target anak harus masuk PTN tertentu itu lebih merupakan gengsi orang bau tanah ketimbang kebutuhan anak.”

“Lha, kau nggak duduk perkara jika anakmu nggak kuliah? Bapaknya doktor, kok anaknya nggak kuliah?”

“Sama sekali tidak. Profesor saya di Jepang dulu, anaknya jadi hair stylist. Bapaknya profesor di bidang fisika. Dia tidak mempermasalahkan. Saya juga tidak. Ini jalan saya. Anak saya punya jalan sendiri.”

Ia termangu lagi.

“Pernah ngobrol sama anakmu, memabahas minat dia?”

“Wah, sekarang sudah enggak.”

“Sepertinya kau nggak dekat sama anakmu.”

“Akrab gimana?”

“Dekat. Apakah anakmu masih mau memeluk dan menciummu?”

Dia tertawa.

“Lho, ini serius. Anak saya biasa memeluk saya, cium saya, tidur di pangkuan saya. Bahkan kadang kala duduk di pangkuan saya. Padahal ia sudah gadis remaja. Ia terbuka bicara sama saya, termasuk soal pribadi, misalnya soal pemuda yang ia suka.”

“Wah, itu enggak mungkin.”

“Kalau anakmu tidak nyaman membahas sesuatu denganmu, lalu dengan siapa ia membahasnya? Dengan teman, atau orang lain. Maka secara perlahan korelasi kepercayaan antara anak dan orang bau tanah hilang. Anak lebih percaya pada orang lain. Pada titik itu kita tak lagi kenal siapa anak kita. Kamu galak sama anakmu?”

“Ya, sering emosi juga.”

“Itulah. Kita sering sulit membedakan antara tegas dengan galak. Kita harus tegas, bukan galak. Kita harus menegur, bukan memarahi. Apa bedanya? Emosi. Galak, marah, sering kali merupakan luapan emosi. Itu bukan pendidikan. Mendidik itu memperlihatkan isyarat dengan tegas, bila diperlukan. Tujuannya jelas, mengarahkan. Kalau memarahi, itu sekedar untuk melepaskan amarah kita saja.”

Begitulah. Ada begitu banyak momen interaksi kita dengan anak yang terlewatkan begitu saja, tanpa kita isi dengan proses pendidikan. Kita menerka kita sudah mendidik anak, tapi nyatanya tidak. Mungkin kita justru lebih sering hadir sebagai sosok pengganggu dan perusak ketimbang pendidik.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below