Inilah 5 Hukum 0n4n1 dalam Pandangan Fiqih Islam, Ternyata Ada Yang Membolehkan?

Bagi kalangan dewasa, ketika pasangan jauh. Ada beberapa orang yang melepas kesepian dengan tangan sendiri. Namun Islam memandangnya sebagai perbuatan yang tidak pantas dilakukan.

Para hebat hukum fiqih berbeda pendapat perihal hukumnya. Inilah 5 Pendapat hukum fiqih perihal hukum memuaskan diri sendiri dikutip Radarislam.com dari laman Kompas.com:

1. Pendapat Imam Maliki, Syafi’i, dan Zaidi

Ulama Maliki, Syafi’i dan Zaidi mengharamkan secara mutlak berdasarkan Al-Quran surah Al-Mu’minun ayat 5-7.

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya  kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. Maka bersama-sama mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”.

Yang dimaksud budak disini yakni budak yang didapat dalam perperangan untuk membela agama.

2. Pendapat Imam Hanafi

Ulama Hanafi secara prinsip mengharamkan 0n4n1 tetapi dalam keadaan gawat yakni orang yang memuncak nafsu dan khawatir berbuat zina. Maka beliau boleh bahkan wajib berbuat demikian untuk

menyelamatkan dirinya dari perbuatan zina yang jauh lebih besar dari dosa dan bahayanya dari memuaskan syahwat oleh diri sendiri.

3. Pendapat Imam Hambali

Ulama Hambali mengharamkan kecuali jikalau orang takut berbuat zina alasannya yakni terdorong oleh nafsu, atau khawatir terganggu kesehatannya, sedangkan beliau tidak mempunyai istri atau budak wanita dan beliau tidak bisa kawin maka beliau tidak berdosa berbuat hal tersebut.

4. Pendapat Ibnu Hazm

Ibnu Hazm memandang makruh hal demikian yakni tidak berdosa tetapi tidak etis. Sebab seseorang menyentuh kemaluannya dengan tangan kirinya yakni boleh menurut ijma seluruh ulama, sehingga 0n4n1 bukanlah suatu perbuatan yang diharamkan.

5. Pendapat Ibnu Abbas, Al-Hasan, dan lain-lain

Ibnu Abbas, Al-Hasan, dan lain-lain membolehkannya. Kata Al-hasan “Orang Islam dahulu melakukannya dalam waktu perperangan (jauh dari keluarga atau istri)”.

Dan kata Mujahid spesialis tafsir murid Ibnu Abbas “Orang islam dahulu (Sahabat Nabi) mentoleransi para remaja/pemudanya melakukannya dan hukum mubah berbuat tersebut berlaku baik untuk pria maupun wanita.

Wallahualam. [Radarislam/ En]

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below