.:[Close][Klik 2x]:.
MENGHINDARI LIMA JENIS SEBUTAN HAJI |

MENGHINDARI LIMA JENIS SEBUTAN HAJI

MENGHINDARI LIMA JENIS SEBUTAN HAJI

 

Semua Muslim tentu berharap menjadi haji mabrur sebagai tanda diterima di sisi Allah SWT. Sepulang haji, ada yang yang harus terus dipertahankan sebagai tanda kemabrurannya yaitu peningkatan iman, peningkatan kesadaran, peningkatan ibadah dan akhlak setelah menjadi haji/hajjah. Selain yang harus dipertahankan, ada juga yang harus dihindari sepulang haji juga sebagai tanda kemabrurannya.

Untuk menjadi haji mabrur, ada lima hal yang harus dihindari oleh mereka yang sudah pulang menunaikan haji dari tanah suci. Apa sajakah itu?

 

  1. Haji Kulit.
    Kulit adalah bagian luar tubuh. Haji kulit adalah haji yang menonjolkan penampilan luar, haji yang menonjolkan asesoris. Banyak orang Islam yang menunjukkan kehajiannya dengan memperlihatkan asesoris kehajiannya agar orang tahu bahwa dia sudah haji. Bahkan ada yang bila nama hajinya tidak dicantumkan dia galau merasa tidak dihargai. Ini namanya “haji kulit.” Yang harus berubah setelah haji itu bukan asesoris melainkan hati yang makin bersih, akhlak yang makin terjaga, amal yang semakin bertambah. Itulah yang disebut dalam Al-Quran (QS 7: 26) sebagai “libasuttaqwa dzalika al-khair” (pakaian taqwa, itulah yang paling baik). “Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah taqwa …” (Al-Baqarah: 197). Apalah artinya asesoris kehajian kita ditonjolkan tapi akhlak tidak terjaga atau amal tidak ada peningkatan. Bila kita tidak bisa memeliharanya, itu hanya akan merusak nama kita sendiri yang sering disimbolkan dengan pengulangan dua kata yang buruk: “Haji-haji kelakuan seperti itu.”
  2. Haji Kilat
    Haji kilat adalah menjadi haji hanya ketika baru pulang dari tanah suci saja, karena baru pulang dari Mekkah keliahatan hajinya, setelah beberapa bulan, biasa lagi kembali kepada kesadaran sebelumnya ketika belum menjadi haji. Menjadi haji berarti siap dengan konsekuensi perubahan sikap dan peningkatan kesadaran. Perubahan kesadaran itu harus kontinyu. Karenanya, menjadi haji yang mabrur sesungguhnya berat. Banyak dari kita, kesadaran hajinya kilat saja alias haji kilat. Saat baru pulang terlihat perubahannya, setelah beberapa bulan lewat, biasa lagi. Lupa dengan tangisannya di Mekkah, lupa dengan kekhusyuan shalatnya di depan Ka’bah, lupa pada penyesalan dosa-dosanya di Masjidil Haram dan seterusnya.
  3. Haji Kalut
    Haji kalut adalah haji yang sepulangnya menunaikan ibadah haji dari tanah suci hidupnya malah jadi kalut, tidak ada ketenangan hidup karena banyak masalah. Mungkin karena meninggalkan persoalan di rumah atau ada masalah dengan tetangga yang tidak diselesaikan dulu. Atau menghabiskan modal usahanya, atau dari cicilan ke bank, atau dari berhutang. Atau sawahnya habis, tanahnya dijual, warung satu-satunya sebagai modal hidup bangkrut. Ibadah haji harus dengan perencanaan dan kemampuan nya. Itulah makna “manistatha’a ilaihi sabila” (mampu dijalannya). Maka, niat dan tujuan harus diluruskan karena salah niat akan salah hasilnya. Sepulang haji, hidup harus jadi tenang bukannya jadi kalut karena menghadapi masalah-masalah yang banyak.
  4. Haji Kelet
    Kelet (Sunda) artinya mengerlipkan mata sambil melirik. Ini simbol keinginan menonjolkan status dan penampilannya di hadapan orang lain melalui kerlipan matanya bahwa dia sudah haji. Dalam obrolan dan komunikasi, kerlipan matanya menunjukkan ia ingin diketahui dan dihormati sebagai haji. Saat ngobrol pun ia ingin menunjukkan bahwa dia seorang haji. Biasanya yang lebih diperhatikannya ketika di Mekkah pun bukan kekhusyuan ibadahnya tetapi bangunan-bangunan, keanehan-keanehannya, kekagumannya pada masjid, keasyikan jalan-jalan atau pengalaman melihat sesuatu sehingga bekasnya bukan bekas kesadaran dan spiritualitas tapi pada status dan asesoris. Karena kualitas hajinya seperti itu, ketika pulang ke tanah air pun tidak memperlihatkan perubahan kesadarannya tapi lebih menonjolkan pengalaman jalan-jalannya dengan mengerlipkan matanya bahwa ia seorang haji yang telah berangkat ke tanah suci yang jauh.
  5. Haji Kolot.
    Kolot artinya tua. Ini simbol kesadaran bahwa setelah menjadi haji usia semakin tua. Sudah jadi haji hindari melupakan usia. Usia semakin tua sudah sepatutnya sikap pun makin dewasa dan terpelihara, ucapan semakin terjaga, pikiran semakin bijaksana. Maka, sepulang haji perenungan perlu ditingkatkan tentang makna dan tujuan hidup untuk mendorong perubahan-perubahan diri. Haji adalah rukun Islam yang terakhir, artinya itu simbol pula bahwa usia makin senja, makin menuju akhir sehingga lebih mendorong untuk lebih banyak mengingatnya: “Faidza qadaytum manasikakum fadzkurullaha … aw asyadda dzikra.” (Apabila kalian telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah mengingat Allah … bahkan lebih banyak lagi, dari biasanya) (Al-Baqarah: 200).

 

 

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below