WAHAI PARA GADIS

WAHAI PARA GADIS

Makin dalam rasa ditanam, makin dalam sakit akan dirasakan. Itu pasti. Maka, cinta biologis pada sesama adalah pengendalian, bahagianya cinta adalah kontrol diri. Tak ada rumusnya pacaran bahagia yang ada adalah keluarga bahagia, itupun setelah melalui gelombang badai dan perjuangan. Tidak ujug-ujug datang tiba-tiba. Bila tak ada pengorbanan dan saling mengerti, tetap, bahagia adalah makhluk indah yang entah dimana.

Bahagianya pacaran tak akan lebih sekitar 10% dari 100% cinta. Bila engkau bebas bergaul memurahkan dirimu pada kekasihmu, ujungnya dihatimu tak lain adalah penyesalan. Itu pun bila engkau masih memiliki iman. Tak ada penyesalan, iman telah terbang entah kemana dan hati akan terus mengalami noda-noda kekotoran. Makin bertumpuk noda-noda akan makin hilang rasa malu. Hilang rasa malu, engkau bukan manusia lagi melainkan seongok daging-tulang yang berjalan, sebetapapun cantiknya rupamu.

Bahagia adalah pengendalian diri dari kesalahan langkah. Orang makin sedikit melakukan kesalahan akan makin bahagia hidupnya, karena hati dan jiwanya bebas dari beban-beban dosa dan kesalahan. Makin banyak kesalahan dilakukan makin tak bahagia, karena diri di bawah sadar, dibebani kesalahan-kesalahan yang disesalinya. Hati jadi sempit, penyesalan menghimpit, jiwa tersiksa, aura bernoda, cahaya wajah sirna.

Menghindari kesalahan bercinta, mengendalikan kebebasan diri, menjaga, memelihara dan menyayangi rasa malu agar selalu hidup dalam diri itulah agama, itulah taqwa, yang ibunda akan tersenyum bangga anak gadinya adalah emas-mutiara.

Cinta bukanlah perkara mengekspresikan kebebasan hasrat tanpa kendali tapi mengendalikannya untuk kebahagiaan rumah tangga kelak untuk dipetik selamanya. Wahai para orang tua, jagalah amanat, anak-anak gadis Anda.

Wahai para gadis bahagiankanlah orang tua dengan kepercayaan bahwa engkau benar-benar terjaga!!

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below