PERMOHONAN MAAF YANG TULUS

Saturday, August 12th 2017. | Uncategorized

PERMOHONAN MAAF YANG TULUS

Kata “mohon maaf” adalah pengakuan diri bersalah telah melakukan kesalahan. Banyak orang minta maaf tapi sebenarnya tidak sungguh-sungguh. Maafnya hanya di mulut, hanya datang dari pikirannya, tidak dari hatinya. Biasanya maaf seperti itu tidak asli, tidak sungguh-sungguh, tidak menyentuh, menggetarkan hati, tidak berbekas dan tidak berdampak. Maaf begitu hanya formalitas, maka yang memaafkannya pun sama-sama formalitas. Maka, maaf memaafkan sebenarnya tidak terjadi.

Ada ciri-cirinya seseorang yang minta maafnya tidak asli atau tidak sungguh-sungguh dari kesalahan yang telah diperbuatnya.

Apa ciri-cirinya?

  1. Minta maafnya hanya formalitas.
  2. Tidak dibarengi dengan penyebutan kesalahannya apa, baik kepada individu, masyarakat atau kepada publik.
  3. Tidak dibarengi dengan ekspresi wajah penyesalan, bila kepada seseorang, misalnya dibarengi dengan getaran rasa apalagi air mata.
  4. Maafnya sambil bela diri dan banyak penjelasan yg tidak perlu. Meminta maaf itu tak perlu penjelasan2. Akui salah dan minta maaf. Apalagi sambil bercanda atau cengengesan, itu jelas maaf dusta.
  5. Maafnya tidak merubah perilaku yang telah diperbuatnya.

Dengan lima aspek itu, mudahlah kita mengukur kualitas atau kesungguhan permintaan maaf seseorang, asli atau tidak. Maka, mudahlah saya saat itu melihat keaslian permintaan maaf Ahok atas pelecehan ayat. Orang-orang percaya dan mengajak memaafkan, saya tidak. Saya menangkap maafnya tidak asli. Benarlah, setelahnya, masih banyak ucapannya yang bikin masalah lagi, membuat banyak orang marah lagi. Demikian juga Afi Nihaya atas plagiasi yang dilakukan, diakui dan pernyataan maafnya. Afi menyatakan maaf dengan masih penjelasan-penjelasan dan bela diri. Apalagi sambil cengengesan. Mudah saja, itu tidak asli. Tapi Afi masih muda, perlu diberi bimbingan cara meminta maaf yang benar.

Budaya maaf mamaafkan kita saat mudik lebaran, apakah ke teman. saudara, handai taulan dan orang tua, kebanyakan kebanyakan maaf formalitas, Cukup salaman merasa sudah saling memaafkan, tanpa menyebut apa kesalahannya, tanpa penyesalan, tanpa getaran, tanpa ruh. Maaf yg begitu tak bermakna dan tak berbekas. Tidak benar2 minta maaf.

Apalagi permohonan maaf kepada Tuhan yang disebut istighfar atau taubat. Harus benar-benar agar bukan “taubat sambel.” Itu namanya taubat palsu: pedas, tersiksa, menyesal, tapi nyolek lagi lagi nyolek lagi.

Permohonan maaf yang asli dan sungguhan itu memerlukan kesadaran spiritual yang tinggi dan hati yang bersih. Sedangkan kita, saya, masih kuat dengan kesombongan.

Artikel lain PERMOHONAN MAAF YANG TULUS