MENABUNG CINTA

MENABUNG CINTA

Cinta yang suci dan kasih sayang yang murni akan dirasakan dalam rumah tangga karena rumah tangga adalah medianya mengekspresikan cinta dan kasih sayang kepada lawan jenis yang disahkan atas nama Tuhan. Tapi, syaratnya, cinta suci itu akan dirasakan bila cinta itu ditabung! Ditabung? Ya ditabung sampai saatnya dipetik dalam wadah rumah tangga.

 

Bagaimana menabung cinta?

Cinta yang diobral dalam pacaran adalah cinta yang murah atau dimurah-murah, ketika memasuki rumah tangga hanya tinggal sisa. Cinta yang ditahan dalam pacaran yaitu tidak memberikan diri pada pacar/kekasih, adalah menabung cinta. Semakin terjaga diri dari sentuhan pacar, semakin cinta itu ditabung. Semakin ia bisa menabung (menjaga diri) akan merasakan cinta sejati kelak dalam rumah tangganya. Tidak ada rasa cinta pun pada pasangan saat menikah, bila cinta itu ditabung dengan kuat semasa lajang, pasti dan pasti Allah akan memberikan waktu panennya yaitu merasakan cinta yg halal, indah dan berkah. Maka, tidak heran, banyak yg perkawinannya bahagia padahal tidak pacaran dulu selama ia pasrah dan ikhlas menerima ketentuan Allah. Dan, kebanyakan pasangan suami/istri adalah bukan yang berpacaran dengan kita.

Jodoh adalah rahasia Allah dan Allah akan memasangkan kita dengan jodoh yang sesuai dengan derajat dan kualitas kita dimata-Nya: perempuan murah dengan laki-laki murah, yang bermartabat dengan yang bermartabat, yang bersih dengan yang bersih lagi, yang kotor dengan yang kotor lagi, pelacur dgn pelacur lagi, tukang dugem dengan tukang dugem lagi, yang shalehah dengan yg shaleh lagi. “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain …” (Ali Imran: 195). “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.” (An-Nur: 3).

Cinta yang sucilah yg hanya akan melahirkan generasi (anak-anaknya) yang berkualitas karena orang tuanya bersih dari dosa dan maksiat. Dulu, para ulama besar lahir dari pasangan orang tuanya yang shaleh, bersih dan ahli ibadah. Orang tua yang bermartabat akan melahirkan keturunanya yang bermartabat pula. Mau? Tabunglah cintamu!

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below