KERUGIAN PARA ORANG TUA

KERUGIAN PARA ORANG TUA

Kerugian besar para orang tua pada anak-anaknya umumnya adalah kesalahan mereka dalam cara mendidik. Repotnya, ‘kesalahan cara’ ini sering tidak terasa dari cara berfikir, kondisi ekonomi dan kebiasaan para orang tua.

Kesalahan cara mendidik ini misalnya:

  1. Tidak memberikan pendidikan kesadaran agama sejak kecil. Agama disini bukan hanya ritual dan simbol seperti shalat, baca Qur’an, busana Muslimah atau dipesantrenkan tapi lebih kepada cara berfikir dan pendidikan mental: menanamkan keyakinan, membiasakan kejujuran, tidak iri pada kepunyaan orang, membiasakan bersyukur dan berterima kasih, hormat pada orang tua, pentingnya usaha dan perjuangan sebelum mendapatkan sesuatu dst.
  2. Memanjakan anak dengan harta dan fasilitas. Keinginan anak yang segala diberi dan dipenuhi dengan mudah adalah kesalahan dalam pendidikan. Ini agak sulit bagi orang tua yang selalu ‘ada.’ Bahkan banyak orang tua yang bangga bila memberi segala permintaan anak: uang yang banyak, hp yang canggih, motor yang mahal dll. Tanpa terasa, anak terbiasa dengan ‘ada’ dan menjadi manja serta tidak pernah tahu kesulitan orang tuannya.
  3. Jarang memberi nasihat. Nasihat sangat penting dalam penumbuhan wibawa orang tua, sikap hormat anak dan pembentukan mental kesadaran mereka. Bila kita mengingat orang tua kita dulu, kesan kuat kita pada mereka adalah kekuatan nasehatnya. Anak -anak kita sekarang jarang yang mengingat kita para orang tuanya karena nasehat nasehat yang kita berikan, sebaliknya banyak dari mereka hanya melawan dan melawan. Ini karena kesalahan para orang tua juga yang salah dalam cara mendidik anak. Masalahnya, orang tua yang dulunya tidak dibesarkan dengan nasihat-nasihat orang tuanya cenderung akan sulit juga memberikan nasihat pada anak anak mereka.
  4. Tidak menjadi contoh dan panutan anak. Pendidikan efektif adalah contoh keteladanan. 1000 nasehat tidak akan masuk bila tanpa keteladanan. Melalui contoh, anak akan belajar dari sikap dan perilaku orang tuanya dan contoh akan lebih kuat dari ucapan dan kata-kata. Ini cukup berat karena apa yang kita inginkan pada anak, kita harus mencontohkannya terlebih dahulu.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below