BERILMU

BERILMU

Untuk menjadi orang yang sebenar-benarnya berilmu itu ada syarat-syaratnya: ilmunya dihayati, dijiwai, diamalkan dan tujuannya untuk mencari kebenaran.

Sekolah yang tinggi, dari S1 hingga doktor kemudian profesor, bila tanpa dihayati, ilmunya “moal nerap” alias tak akan faham dengan ilmu yang dipelajarinya. Setelah selesai sekolahnya, tak kelihatan ilmunya alias tak berbekas.

Bila tak dijiwai tak akan menjadi kepribadian dan cara berpikirnya. Tak kelihatan penguasaannya dan integritasnya bahwa dia orang yang berilmu atau bersekolah yang tinggi. Ditanya bingung, menjawab tidak mengena, menjelaskan hambar dan tak dimengerti, menganalisis tidak mendalam.

Tidak diamalkan, ilmunya tak menjadi kebaikan buat dirinya, tak menjadi amal dan peningkatan kualitas serta kesadaran dirinya. Ilmu tak diamalkan malah akan berbalik menghisab dirinya.

Tujuannya bukan untuk mencari kebenaran, ilmunya akan formal, garing, tak berjiwa, yang diutak-atiknya pun kemudian hanya masalah-masalah teknis administratif keilmuan yang tak beres-beres, berubah-rubah terus sesuai aturan dan keputusan pemerintan. Aturan berubah ikut berubah, kata pemerintah begitu ikut begitu. Tak ada pendirian, prinsip dan keyakinan yang dipegang yang menjadi sikap dan pandangan hidupnya.

Kepuasannnya hanya cukup sampai sekolahnya selesai dan bergelar, lalu merasa selesailah mencari ilmu, merasa selesailah berkarya. Ada kegemaran ikut seminar disini dan disitu, mengisi sebagai pembicara disini dan disitu tapi hanya berbagai ilmu teknis bukan substansi. Tak ada keresahan teoritis, kegelisahan intelektual apalagi penemuan kebenaran yang belum juga didapatkannya yang menentramkan jiwa dan batinnya.

Jadi teringat ucapan seorang sufi: “Yang kutakutkan selama hidupku adalah pertanyaan kelak, ‘hai fulan sudahkah engkau menemukan kebenaran? Lalu, untuk apa saja waktu hidupmu engkau pergunakan selama di dunia?”

Mencari ilmu, belajar dan menekuni tanpa penghayatan, penjiwaan, amal dan untuk mencari kebenaran dengan sekolah yang tinggi, hanya akan bergelar tapi belum tentu berilmu, menjadi doktor tapi belum tentu dihargai dan diakui, menjadi profesor tapi belum tentu dilirik, dihormati dan ditakzimi.

Maka, belajarlah, sekolahlah yang tinggi, berjalanlah di muka bumi, mengembaralah, berkelanalah, berpedih perihlah, jauhi kesenangan selama mencari ilmu, tuntutlah ilmu hingga ke negeri Barat tapi, jangan lupa, luruskanlah niat, hayatilah, jiwailah, amalkanlah dan carilah kebenaran.

Jadilah orang yang sebenar-benarnya berilmu, jadilah pribadi unggul dan ulung dengan ketajaman berpikir, keluasan pikiran, kelapangan dada, kerendahatian, ketinggian kesadaran, kedalaman penghayatan dan perenungan, cari, pinta dan dengarkanlah nasehat, bertambahlah amal, asyik-masyuklah dalam mencari dan menemukan kebenaran yang ujungnya berusaha menemukan Tuhan. Kita pun kembai kepada-Nya dengan selamat dan senyum kebahagiaan.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below