Jangan Matikan Lampu Rumah, Penuh Keutamaan dan Berlimpah Pahala di 9 Hari Dzulhijjah

Rabu (23/8/2017) dalam penanggalam Islam yaitu hari pertama dalam bulan Dzulhijjah. Dzulhijjah disebut sebagai salah satu bulan yang dimuliakan Tuhan SWT. Di dalamnya terdapat kewajiban haji bagi yang bisa menunaikannya.
Sementara orang yang tidak mampu, dianjurkan memperbanyak amalan sunah lainnya menyerupai sedekah, salat, dan puasa. Anjuran memperbanyak amal saleh itu termaktub dalam beberapa hadis.
Sa’id bin Jubair -rahimahullah- memotivasi kita:
“Janganlah kalian mematikan lampu-lampu rumah kalian di 10 malam pertama di bulan Dzulhijjah (hidupkanlah malam-malam ini dengan beribadah).” (Al Hilyah 4/281)
Tidak heran ia berpesan demikian, alasannya yaitu ia yaitu perawi hadits Ibnu ‘Abbas berikut ini:
 “Tidak ada sebuah hari pun dimana amal shalih lebih dicintai oleh ALLAH melebihi amal shalih yang dikerjakan di 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah.”
Para shahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah tidak juga jihad fi sabilillah?”
Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjawab:
“Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang pergi berjihad membawa jiwa dan hartanya dan ia tidak pernah pulang kembali ke kampung halamannya (mati syahid).” (HR. Bukhari 969)
Dan dalam hadits Baihaqi:
“Tidak ada amalan yang lebih baik disisi ALLAH dan lebih besar pahalanya dibanding amal shalih yang dilakukan di 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah.” (HR. Baihaqi, lihat Fathul Baari 3/390 dan Shahih Targhib 2/15)
Saudaraku,  walaupun 10 hari ini belum sepopuler hari-hari dalam bulan suci Ramadhan di mata masyarakat kita, namun cukuplah sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- di atas mendorong kita untuk bersiap menyambutnya, ini yaitu golden time-nya beribadah.
Mari kita kembali singsingkan lengan,pPerbanyak ibadah..
Hidupkan malam-malamnya..
Kita jamu hari-hari terbaik ini.
Misalnya hadis riwayat Ibnu ‘Abbas yang ada di dalam Sunan At-Tirmidzi:
Artinya, “Rasulullah SAW berkata: Tiada ada hari lain yang disukai Tuhan SWT untuk beribadah menyerupai sepuluh hari ini,” (HR At-Tirmidzi).
Hadis di atas menyampaikan bederma apapun di 10 hari pertama Dzulhijjah sangat dianjurkan.
Namun kebanyakan ulama menggunakan hadis di atas sebagai dalil anjuran puasasembilan hari pada awal Dzulhijjah.
Hal ini terlihat dalam pembuatan judul episode hadis tersebut.
Dengan demikian, Rasul menyetarakan pahala bederma di sepuluh hari Dzulhijjah dan mati syahid.
Karena konteks negara kita bukan perperangan, dalam kondisi aman dan damai, tentu memperbanyak amal di bulan Dzulhijjah, terutama puasa, lebih diprioritaskan. Wallahu a’lam. (Dari banyak sekali sumber)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below